Selasa, 17 April 2018

Sajak - Puan Si Bodoh


Kemudian daun berguguran di atas tanda kematian;
Puan tidak lagi mengenali dirinya dengan baik,
Terlalu pongah ia melangkah, terlalu kikir ia berpikir.

Saat bercermin, pandangnya kabur
Lututnya tak sanggup lagi menopang dosa
"Kau menjijikan puan! Memalukan! Enyah saja dari hadapanku!"
Rutuknya pada sosok di depan cermin,
Sama sekali tak memahami atas dasar apa air matanya mengalir deras

Si Puan yang dimaksud menatap nanar Tuannya;
Dia bukan lah pelaku yang menginginkan hidup ini
Puan tidak mempercayai siapapun bahkan dirinya sendiri
Si Puan yang dimaksud ingin menyudahi kegilaan ini; dosa, nista, derita, nestapa.
Tidak pula ia menginginkan berakhir ke neraka


Hatinya bergejolak, ia berseru : "BESOK AKU AKAN TIADA! SI PUAN BODOH MATI ESOK HARI! LIHAT SAJA, DIA AKAN LENYAP!"


NB : satu kebiasaan gue terbongkar di sajak ini, satu rahasia gue terbongkar lewat sajak ini. Kesimpulannya adalah: sajak ini self-reminder gue. Gue harus jadi lebih baik dari hari ke hari. Gue ga boleh terus kecemplung di kesalahan yang sama. Gue harus pandai-pandai melupakan rasa sakit baik yang datang dari diri sendiri maupun dari orang lain.
*lah elu ngomong ame sape/?*
Sama diri sendiri lah, yang baca ini cuma gue kok 😛

Sajak depresi yang terlahir ketika gue lagi depresi-depresinya. Gue ga boleh depresi lagi, gimana caranya? Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Sekian, terima kasih, salam pecandu kata! 💕☕